BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Dalam konteks
pendidikan ,anak usia MI perlu mendapatkan perhatian khusus karena merupakan
peletak pendidikan dasar yang akan memberikan bekal kepada anak pada jenjang
pendidikan selanjutnya agar mampu mencapai tujuan pendidikan.
Pada hakikatnya
tujuan pendidikan sendiri itu adalah menolong anak mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman,bertqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa,berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap kreatif,mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Seorang guru dan
orang tua pun harus memahami tingkat perkembangan anak terlebih dahulu agar
seorang guru dan orang tua mampu membuat rencana yang efektif dalam mengadakan
perubahan dari anak itu sendiri.
B. Rumusan masalah
a. Bagaimana
aspek perkembangan anak terhadap penyelenggaraan pendidikan di MI?
b. Bagaimana
perkembangan fisik motorik anak MI?
c. Bagaimana
perkembangan sosial anak MI?
d. Bagaimana
perkembangan kognitif anak MI?
e. Bagaimana
perkembangan emosi anak MI?
f. Bagaimana
perkembangan bahasa anak MI?
g. Bagaimana
perkembangan moral anak MI?
h. Bagaimana
perkembangan agama anak MI?
C. Tujuan penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui bagaimana aspek perkembangan anak terhadap penyelenggaraan
pendidikan di MI,perkembangan fisik dan motorik, perkembangan sosial,
perkembangan kognitif, perkembangan emosi, perkembangan bahasa, perkembangan
moral dan perkembangan agama pada anak.
D. Metode pemecahan masalah
Metode
yang kami gunakan dalam memecahkan masalah pada makalah ini yaitu dengan metode
pustaka,yaitu kami mendapatkan informasi dengan mencari informasi melalui
buku-buku sumber yang ada di perpustakaan dan kami juga menggunakan internet.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
IMPLIKASI
ASPEK PERKEMBANGAN ANAK TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI
SD/MI
Perkembangan
fisik dan perseptual pada anak akan terus berkembang sampai usia remaja.
Keduanya merupakan aspek saling saling terjalin dan seling mempengaruhi. Para
pendidik juga harus seimbang dalam memberikan perhatian terhadap perkembangan
fisik maupun persptual anak didiknya. Perhatian ini diperlukan untuk
perkembangan aktivitas pengajaran dan aktivitas secara keseluruhan. Sehingga
kedua faktor tersebut berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaran, pendidikan
olahraga dan pemeliharaan kesehatan juga nutrisi anak.
·
Implikasi bagi Penyelenggara
Pembelajaran
Anak
usia SD sudah dapat mengontrol berbagai aktifitas mereka, dari segi fisik dan
peseptual. Fisik mereka masih dalam perkembangan, untuk itu perlunya
peninggkatan keterampilan fisik dan pemenuhan kebutuhan akan gerak mereka.
Begitu pula masih berkembangnya aspek perseptul mereka dengan dirangsang dan
difungsikan secara optimal melalu interaksi dengan lingkungan. Sehingga perlu
adanya perhatian oleh seorang pendidik untuk lebih memberikan kesempatan atau
kebebasan bagi anak melakukan aktivitas fisik dan perseptualnya. Para pendidik
membutuhkan cara pengajaran yang lebih terbuka, lansung memberikan kesempatan
anak berperan mengoptimalkan perkembangan fisik dan perceptual mereka. Dengan
cara ini anak dapat lebih bersemangat dan timbul rasa senang dalam menjalani
aktivitas pembelajaran. Sehingga berdampak positif juga bagi perkembangan
mereka. Cara pembelajaran yang diharapakan dengan : program pengajaran yang
fleksibel dan tidak kaku serta membedakan perbedaan individu, tidak monoton dan
verbalistik yang di beri banyak variasi ( terdapat eksperimen, praktek,
observasi,dll ), dan menggunakan berbagai media sehingga anak dapat berperan
aktif secara mental dan perseptualnya. Di harapkan dengan cara ini anak dapat
lebih berkembang, aktif dan membantu timbulnya suasana yang menyenangkan selama
proses belajar. Karena anak lebih butuh banyak aktivitas yang membantu perkembangan
mereka.
·
Implikasi bagi Penyelenggara Pendidikan
Olahraga
Penyelenggaraan
pendidikan olahraga juga sangat membantu perkembangan fisik dan perseptual
anak. Pendidikan olahraga di sekolah dasar perlu adanya pemilihan jenis-jenis
olahraga yang tepat bagi mereka sesuai dengan tahap perkembangannya. Anak yang
masih duduk di bangku sekolah dasar akan lebih senang beraktifitas dengan
gerakan olahraga yang masih sederhana. Hal ini disebabkan anak tersebut
gerakannya masih kaku dan perlu pengalaman yang lebih banyak. Pendidikan
olahraga di sekolah dasar harus di olah dengan system permainan otot dan
motorik mereka, karena anak masih senang dengan aktivitan permainan.
·
Implikasi bagi Pemelihara Kesehatan dan
Nutrisi Anak
Pemeliharaan
kesehatan dan nutrisi anak juga merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh
pada pertumbuhan atau perkembangan anak. Jika kesehatan dan nutrisi anak tidak
diperhatikan akan mengakibatkan kematian. Terutama di negara berkambang taraf
kesehatan dan nutrisi masih di bawah negara yang maju.
Sehingga
juga ada penerapan di sekolah dasar untuk memelihara kesehatan mereka dengan
membuang sampah, makan makanan yang bersih, memakai pakaian yang bersih, dan
selalu menjaga lingkungan sekitar selalu dalam keadaan bersih. Tetapi tidak
dipungkiri juga seorang pendidik harus memberi contoh pada anak didiknya untuk
memelihara kesehatan lingkungan sekitar. Kadang – kadang anak kecil masih
sangat polos dan perbuatan gurunya selalu diperhatikan bahkan ditiru. Bagaimana
anak didik akan melakukan jika pendidiknya belum memberi contoh.
Makanan
yang mengandung nutrisi juga harus diperhatikan agar anak tetap sehat dan
berbadan gemuk. Karena anak yang kurang nutrisi juga akan berdampak pada
perkembangan fisik dan perseptualnya. Perlunya pengarahan dari guru untuk
mengajak anak didik makan makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna yaitu yang
mengandung karbohidrat ( nasi, roti, ubi), mineral ( sayur mayor ), protein (
lauk pauk), vitamin ( buah-buahan) dan susu. Sehingga perlu adanya keseimbangan
dari guru, staf, lingkungan, dan orang tua untuk membantu memelihara kesehatan
dan nutrisi anak agar tetap terjaga.
A.
PERKEMBANGAN
FISIK MOTORIK
Perkembangan
Fisik Monotorik
Seiring
dengan pertumbuhan fisik yang beranjak matang,maka perkembangan monotorik anak,perkembangan
anak usia dasar ditandai dengan gerak atau aktifitas motorik yang lincah oleh karena itu usia ini
merupakan massa yang ideal untuk belajat keterampilan yang berkaitan dengan motorik baik halus maupun kasar.
Contoh
perkembangan motorik anak
|
Motorik Halus
|
Motorik Kasar
|
|
1. Menggambar
|
1. Bela
diri
|
|
2. menulis
|
2. berenang
|
Perkembangan
fisik yang normal merupakan salah satu factor penentu kelancaran proses belajar
baik dalam bidang pengetahuan maupun ktrampilan,oleh karena itu perkembangan
motorik sangat enunjang keberhasilan peserta didik. Upaya-upaya sekolah untuk memfasilitasi
perkembangan motorik
secara fungsional tersebut diantaranya sebagai tersebut:
1. Sekolah
merancang pelajaran krampilan yang ber,manfaat bagi perkembangan atau kehidupan
anak
2. Sekolah
memberikan pelajaran senam atau olah raga kepada sisiwa.
3. Sekolah
perlu merekrut guru-guru yang memiliki keahlian dalam bidang-bidang tersebut.
4. Sekolah
menyediakan sarana untuk kelangsungan pelajaran tersebut.
C.
PERKEMBANGAN SOSIAL
Pengertian Hubungan Sosial
Hubungan sosial diartikan sebagai cara-cara individu
bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu
terhadap dirinya. Hubungan sosial ini menyangkut juga penyesuaian diri terhadap
lingkungan, seperti makan dan minum sendiri, berpakaian sendiri, menaati
peraturan, membangun komitmen bersama dalam kelompok atau organisasinya, dan
sejenisnya.
Pengaruh Hubungan Sosial Terhadap
Tingkah Laku
Hubungan sosial individu dimulai sejak individu berada di
lingkungan rumah bersama keluarganya.
· Pengalaman hubungan sosial yang amat
mendalam adalah melalui sentuhan ibu kepada bayinya.
· Pada bulan kedua, bayi mulai
mengenal wajah orang di sekitarnya dan mulai bisa tersenyum sebagai suatu cara
menyatakan perasaan senangnya.
· Sekitar bulan keenam, bayi mulai
mengenal orang-orang di sekitarnya dan membedakan dengan orang-orang yang asing
baginya.
· Setelah berumur tujuh bulan, bayi
mulai aktif mengadakan kontak dengan orang lain, yaitu dengan menunjukkan
kemampuan sederhana, misalnya mengangkat tangannya untuk minta digendong atau
menangis minta perhatian.
· Pada akhir tahun pertama, kontak
antara orang tua dan bayi sudah cukup jauh sehingga sudah dapat diajak bermain.
· Pada masa prasekolah, kira-kira umur
18 bulan, keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan semakin besar sehingga
tidak jarang menimbulkan masalah yang berkaitan dengan kedisiplinan.
· Jean Piaget mengatakan bahwa
permulaan kerjasama dan konformisme (penyesuaian) sosial semakin bertambah pada
saat anak mencapai usia 7 sampai 10 tahun dan mencapai puncak kurva pada saat
anak berada di antara umur 9 sampai 15 tahun.
· Konformisme semakin bertambah dengan
bertambahnya usia karena pada masa remaja sudah semakin berkembang keinginan
mencari dan menemukan jati dirinya sehingga konformisme semakin berbenturan
dengan upaya mencapai kemandiriran.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Perkembangan
Hubungan Sosial
Pengaruh lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
terhadap perkembangan sosial:
a. Lingkungan
Keluarga
Ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat
dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya yaitu, kebutuhan akan
rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri.
Dengan kata lain, yang sangat dibutuhkan oleh remaja dalam perkembangan
sosialnya adalah iklim keluarga yang kondusif yang mengandung 3 unsur, yaitu:
· Karakteristik khas internal keluarga
yang berbeda dari keluarga lainnya
· Karakteristik khas itu dapat
mempengaruhi perilaku individu dalam keluarga itu (termasuk remajanya).
· Unsur kepemimpinan dan keteladanan
kepala keluarga, sikap, dan harapan individu dalam keluarga tersebut.
b. Lingkungan
Sekolah
Kehadiran di sekolah merupakan perluasan lingkungan
sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus merupakan faktor lingkungan
baru yang sangat menantang atau bahkan mencemaskan dirinya.Ada4 tahap proses
penyesuaian diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun hubungan
sosialnya, yaitu:
- Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak orang lain.
- Anak dididik untuk menaati peraturan-peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.
- Anak dituntut untuk lebih dewasa di dalam melakukan interaksi sosial berdasar asas saling memberi dan menerima.
- Anak dituntut untuk memahami orang lain.
c. Lingkungan
Masyarakat
Sebagaimana dalam lingkungan keluarga dan sekolah, maka
iklim kehidupan dalam masyarakat yang kondusif juga sangat diharapkan
kemunculannya bagi perkembangan hubungan sosial remaja. Toenggoel P. Siagian
menegaskan bahwa, “Masa remaja adalah masa untuk menentukan identitas dan
menentukan arah, tetapi masa yang sulit ini menjadi bertambah sulit oleh adanya
kontradiksi dalam masyarakat. Justru dalam periode remaja diperlukan norma dan
pegangan yang jelas dan sederhana.”
Dengan demikian, iklim kehidupan masyarakat memberikan
urutan penting bagi variasi perkembangan hubungan sosial remaja.
d. Perbedaan
Individual Dalam Perkembangan Sosial
Perbedaan lingkungan dapat menimbulkan perbedaan sikap
sosial pada individu. Secara psikologis, sikap ini dapat dipelajari dengan tiga
cara, yaitu:
·
Meniru
orang yang lebih berprestasi dalam bidang tertentu
·
Mengombinasikan
pengalaman
·
Pengalaman
khusus dengan emosional yang mendalam.
D.
PERKEMBANGAN KOGNITIF
Kognitif
adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada
waktu manusia sedang berpikir. Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition
artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition
(kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam
pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai
salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua
bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan
masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan,
pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan,
membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat
di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan)
yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah
laku seseorang/anak itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan
mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
PRINSIP DASAR TEORI PIAGET
Jean Piaget (seorang psikolog Swiss yang hidup tahun
1896-1980) dikenal dengan teori perkembangan intelektual yang menyeluruh, yang
mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi dan psikologis. Piaget
menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap
lingkungan. Contoh : manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk
melindunginya dari dingin, manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari
hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon.
Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian dan kendaraan untuk
transportasi.
Teori perkembangan kognitif Piaget didasarkan atas prinsip
proses adaptasi atau penyesuaian diri yang terjadi dalam interaksi antara organisme (makhluk hidup) dengan
lingkungannya. Dalam proses adaptasi ini akan terjadi dua proses:
a. Asimilasi merupakan suatu proses
menerima berbagai stimulus atau rangsangan yang sampai pada dirinya sendiri
untuk kemudian diolah dan disesuaikan dengan kondisi dirinya. Misalnya ketika
seorang siswa menerima pelajaran dari guru tentang sopan santun, maka siswa
akan mengolah dan menyesuaikannya dengan pelajaran tentang sopan santun yang
pernah diterima dari orang tuanya. Dengan demikian pemahaman sopan santun dari
guru akan disesuaikan dengan pengetahuan yang telah diperoleh dari orang
tuanya. Hasil selanjutnya adalah merupakan keterpaduan antara pelajaran sopan
santun dari orang tua dan dari guru.
b. Akomodasi merupakan suatu proses
menerima rangsangan yang datang dari lingkungan untuk kemudian disimpan dalam
kesadarannya. Misalnya seorang siswa meniru pola – pola perilaku dari cerita –
cerita film yang berasal dari negeri Barat. Dalam pross akomodasi sebaiknya
terjadi proses seleksi terlebih dahulu sebelum menerima dan menyimpan suatu
rangsangan dari lingkungan.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi
seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke
tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena
ia ingin mencapai keadaan equilibrium,
yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya
di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut
selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Dengan
demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari
luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi
pengetahuannya.
TAHAP – TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF
Menurut Piaget, pada garis besarnya perkembangan kognitif
berlangsung melalui empat tahapan:
a. Tahap
Sensorimotor (sejak
lahir sampai usia 2 tahun)
b. Dalam tahap ini, pola kognitif anak
masih bersifat biologis yang berpusat pada fungsi– fungsi alat indera dan gerak
yang kemudian secar bertahap berkembang menjadi kemampuan berinteraksi dengan
lingkungan secara lebih tepat.
c. Tahap
Pra-operasional,
dibagi menjadi:
d. Tahapan prakonseptual atau
simbolik, usia 2-4 tahun.
e. Tahapan intuitif atau perceptual ,
usia 4-7 tahun.
Dalam
tahapa ini pola berpikir anak sudah mulai berkembang kepada pola – pola
berpikir tertentu. Anak sudah mampu membuat logikanya sendiri meskipun masih
bersifat primitif dan kurang rasional. Anak sudah mampu membuat suatu
kesimpulan denan logikanya sendiri. Anak dapat mengklasifikasikan objek
menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya
berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda – beda.
c. Tahap
operasional konkret ( usia 7-12 tahun)
Pada masa
ini anak telah mampu menggunakan pola berpikir opeasional secara konkret dalam
arti masih memerlukan dukungan objek – objek konkrit. Pada masa ini anak telah
memahami konsep yang berhubungan dengan ukuran kuantitas seperti panjang,
lebar, luas, volume, berat, dan sebagainya.
d. Tahap
operasional formal (usia 12 tahun sampai remaja)
Karakteristik
tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar
secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan
ini, anak dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia
tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada
"gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan
ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya),
menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral,
perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak
sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai
keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran
dari tahap operasional konkrit.
E. PERKEMBANGAN EMOSI
Menurut
Papalia, Olds & Feldman (2007) masa kanak-kanak tengah dimulai dari usia
6-11 tahun sedangkan menurut Gottman & DeClaire (1997) masa kanak-kanak
tengah dimulai dari usia 8-12 tahun. Selama periode masa kanak-kanak tengah
(Usia SD) anak-anak mulai berhubungan dengan suatu kelompok sosial yang lebih
luas dan memahami pengaruh sosial. Pada saat bersamaan, anak-anak mulai tumbuh
secara kognitif dan mampu mengenali emosi mereka sendiri (Gottman &
DeClaire, 1997
Anak-anak
pada masa kanak-kanak tengah sudah dapat memahami disposisi psikososial yang
berarti bahwa anak sudah mampu menjelaskan emosinya dengan menghubungkannya
pada internal states dan bukan pada physical events. Mereka sudah memahami
variasi-variasi emosi yang ada (Strayer dalam Berk, 1996).
Emotional
self-regulation berkembang pesat pada masa kanak-kanak tengah seiring dengan
berkembangnya berbagai cara yang digunakan oleh anak untuk mengatasi
situasi-situasi yang memunculkan perasaan emosional. Anak-anak pada masa
kanak-kanak tengah tidak hanya mampu memahami dan merespon perasaan mereka
sendiri tetapi mereka juga sudah mampu memahami apa yang dirasakan oleh orang
lain. Kemampuan untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang
lain (perspective taking) sudah berkembang pada masa kanak-kanak tengah. (Berk,
1996).
Menurut
Papalia, dkk (2007) pada usia 8-10 tahun, anak sudah mampu mengintegrasikan
rangkaian emosi positif dan negatif. Anak dapat memahami bahwa dirinya memiliki
dua perasaan yang saling bertolak belakang pada saat yang bersamaan. Pada usia
11 tahun, anak sudah mampu mendeskripsikan perasaan yang dirasakannya (Papalia,
Olds, & Feldman, 2007). Menurut Gottman & DeClaire (1997) orang tua
memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak dengan
memberikan emotion coaching sejak dini. Emotion coaching sebaiknya diberikan
pada masa kanak-kanak awal yaitu antara usia empat sampai tujuh tahun sebab
pada masa ini anak mulai membentuk hubungan sosial dengan teman sebayanya dan
anak dapat mengembangkan ketrampilan mengatur emosinya ketika berinteraksi
dengan teman sebayanya (Gottman & DeClaire, 1997). Hal ini sesuai dengan
penelitian Gottman & DeClaire (1997) yang menunjukkan bahwa anak yang
berhasil mengendalikan emosinya ketika berhubungan dengan kelompok sosialnya
pada masa kanak-kanak tengah yaitu antara usia delapan sampai dua belas tahun
adalah anak yang telah belajar mengendalikan emosinya pada masa kanak-kanak
awal melalui emotion coaching
F.
PERKEMBANGAN
BAHASA
anak sekolah dasar dalam berbahasa terus berkembang, dari
mulai satu kalimat, dan seterusnya. Untuk itu perlu kita telusuri apa saja
perkembangan bahasa yang dialami oleh perserta didik. Tentunya bagi sorang guru
itu perlu mengetahui bagaimana perkembangan bahasa perserta didiknya.
Perkembangan bahasa pada usia sekolah yaitu antara lain,
penggunaan bahasa pada anak, aspek pada penggunaan bahasa
adalah narasi dan percakapan. Umumnya pada usia ini, tugas komunikasi menjadi
kompleks dan sulit , sehingga anak-anak usia ini mengalami kesulitan untuk
memahami perasann orang lain, lalu anak usia 5-6 tahun cenderung kurang mampu
mengkomunikasikan informasi dari anak yang lebih tua, jadi informasi yang
abstrak belum mampu dikomuikasikan pada anak-anak.
Lalu meningkatnya jumlah pembendaharaan dan spesifikasi
definisi. Yaitu dalam masa pertumbuhan pemahaman kata dan hubungannya
berlangsung terus menerus, sehingga mereka dapat memperkaya perbendaharaan
katanya lebih banyak melalui bacaan-bacaan yang sifatnya konstekstual,
peningkatan tersebut mungkin setelah kelas empat SD. Namun walaupun terjadi
peningkatan perbendaharaan kata tidak selalu anak dapat memahami makna suatu
kata atau kalimat. Karena, dapat terjadi bila anak tidak menguasai
perbendaharaan dari semua kata di dalam kalimat, tapi anak itu dapat memahami
makna kata atau kalimat secara tepat. Sebaliknya, anak yang menguasai arti dari
seluruh kata dalam suatu kalimat tertentu tidak dapat memahami makna kata atau
suatu kalimat. Untuk itu dalam memaknai suatu kata ataupun kalimat diperlukan
lebih banyak kemampuan menjustifikasi suatu kata atau kalimat daripada sekedar
mengetahui arti kata.
Selanjutnya, pengembangan sintaksis yang ada dan
pemerolehan bentuk-bentuk baru secara simultan. Yaitu anak yang terus menerus
mengembangkan kalimat dengan mengelobarasikan kata benda dan kata kerja.
Penyatuan dan pemahaman fungsi terus berkembang. Struktur tambahan mencakup bentuk
kalimat pasif. Dalam perkembangan morpologi pada anak kelas awal SD dapat
ditandai dengan penggunaan kata imbuhan awalan, dan paling sulit yang hadapi
anak yaitu menenai penggunaan sisipan.
Perkembangan membaca dan menulis, perlu diketahui bahwa
faktor yang berpengaruh pada pembaca yang baik yaitu kesediaan orang tua untuk
menyediakan serta menciptakan lingkungan kondusif di rumah bagi perkembangan
kemampuan membaca melalui penyediaan bacaan. Membaca bersama-sama merupakan
aktivitas yang bernilai sosial tinggi yang melibatkan secara aktif orang tua
dan anak. Ada tumpang tindih antara menbaca dan menulis, umumnya, penulis yang
baik adalah pembaca yang baik pula. Sebaliknya, proses menulis berkaitan dengan
kegiatan menggambar yang menunjukkan simbolis, sehingga anak yang kemampuan
melukisnya bagus maka menulisnya juga bagus.
Menciptakan perkembangan bahasa yang optimal di KBM SD,Untuk menuntun anak dalam mengenai perkembangan bahasa itu
sangat penting. Karena dapat membantu anak berkomunikasi dengan baik dan ank
tersebut tentunya akan mengerti tentang pemahaman-pemahaman tertentu. Untuk itu
perlu sekolah terutama di setiap kelas suatu pembelaajaran yang efektif
sehingga perkembangan bahasanya bisa berjalan secara optimal.
Pembelajaran yang optimal maka sangat perlu bahasa yang
komunikatif yang memungkinkan semua pihak yang terlibat dalam interaksi belajar
mengajar dapat berperan secara aktif dan produktif. Bahasa itu merupakan alat
komunikasi dalam pergaulan social sehingga dengan komunikasi bisa menghasilkan
pembelajaran efektif untuk mendapat pendidikan yang optimal. apabila guru dan
siswa saling komunikasi dengan baik dan anak mengerti apa yang dikatakan oleh
seorang guru, tentunya dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal. untuk itu,
diharapkan seorang guru agar menggunakan bahasa anak di dalam kelas daripada
bahasa orang dewasa.
Dari terjalinnya suatu komunikatif antara seorang guru dan
peserta didik, tentunya pemberian lingkungan kondusif bagi perkembangan bahasa
itu sangat penting. Dengan adanya lingkungan kondusif yang tercipta sesuai
dengan kebutuhan anak untuk perkembangan bahasa pada saatnya, akan berdampak
sangat positif terhadap perkembangan bahasa anak, tidak hanya sebagai pengguna
bahasa yang pasif, tapi juga menjadi pengguna bahasa yang aktif. Untuk
menciptakan suatu lingkungan kondusif dikelas yaitu pengaturan tata letak meja
kursi dan lainnya, dan juga suara seorang guru agar tidak begitu lirih di dalam
kelas, sehingga seorang guru harus mengatur suaranya agar dapat didengar siswa
semuanya.
G. PERKEMBANGAN
MORAL
Pertama sekali anak belajar mengikuti
aturan-aturan yang ada tanpa tahu alasan mengapa harus mengikuti
aturan-aturan tersebut. Dalam mempelajari moral, ada 4 elemen penting,
yaitu peran hukum, tata krama dan aturan; peran kata hati; peran rasa bersalah
dan malu; serta peran interaksi sosial. Keempat elemen ini penting dalam
perkembangan moral seorang anak. Perkembangan moral tidak bisa dilepaskan dari
lingkungan. Ketika kecil lingkungan keluargalah yang berperan, namun begitu
memasuki usia sekolah konsep moral mulai berkembang, anak mengikuti
aturan-aturan yang ada disertai adanya alasan-alasan tertentu. Misalnya, agar
disenangi teman sebaya atau orang disekelilingnya anak mengikuti aturan-aturan
yang diharapkan lingkungannya.
Dalam perkembangan
moral, disiplin mempunyai peran penting. Melalui disiplin anak belajar
berperilaku sesuai dengan kelompok sosialnya. anak pun belajar perilaku yang
dapat diterima dan tidak diterima dalam masyarakat. Dalam menanamkan disiplin,
hukuman dan penghargaan mempunyai andil. Hukuman akan diberikan jika terjadi
pelanggaran disiplin, anak pun belajar memahami mengapa perilakunya salah dan
anak tidak akan mengulangi perilaku tersebut. Demikian pula dengan penghargaan.
Adanya penghargaan, anak akan belajar mengulangi perilaku yang diterima di
lingkungannya. Pemberian hukuman dan penghargaan, atau penanaman disiplin
haruslah secara konsisten.
Pengenalan perilaku baik
dan buruk tidak terlepas dari bagaimana mengenalkan agama sejak dini. Melalui
contoh sehari-hari anak belajar konsep Tuhan, surga, neraka, setan ataupun
malaikat.
H. PERKEMBANGAN
AGAMA
Pada masa
ini kesadaran beragama anak ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sikap
keagamaan anak masih bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengertian.
2. Panangan
dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah
logika yang berpedoman kepada indikator-indikator alam semesta sebagai
manifestasi dari keagungan-Nya.
3. Penghayatan
secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya
sebagai keharusan moral.
Dalam
mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan
penyayangnya, bukan menonjolkan sifat-sifat Tuhan yanng menghukum, mengazab,
atau memberikan siksaan dengan neraka.
Sampai
kira-kira berusia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis, sehingga
kesadaran beragamanya hanyaa merupakan hasil sosialisasi orang-orang di
sekitanya. Oleh karena itu, pengamalan ibadahnya masih bersifat peniruan, belum
dilandasi kesadarannya. Pada
usia 10 tahun ke atas, semakin bertambah kesadarannya akan fungsi agama
baginya, yaitu sebagai penggerak moral dan sosial. Dia mulai mengerti bahwa
agama bukan kepercayaan pribadi atau keluarga, melainkan kepercayaan masyarakat
luas. Berdasarkan ini , maka shalat berjama’ah atau shalat Idul Fitri/Adha dan
ibadah sosial lainnya sangat menarik baginya. Periode
sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama yang paling
mendasar. Kualitas keagamaan anak di usia dewasa sangat dipengaruhi pula oleh
proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya waktu kecil. Maka dari itu,
pendidikan agama pada usia SD/MI sangatlah penting dan layak menjadi perhatian
yang lebih oleh semua pihak.
Menurut
Zakiah Darajat mengemukakan
bahwa pendidikan agama di sekolah dasar merupakan dasar bagi pembinaan sikap
positif terhadap agama dan pembentukan kepribadian dan akhlak anak. Apabila
berhasil, maka pengembangan sikap keagamaan pada masa remaja akan mudah, karena
anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan
yang biasa terjadi pada masa remaja.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Kemampuan
intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya
berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya.
Kepada siswa sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan seperti membaca,
menulis, dan berhitung. Pembelajaran bahasa disekolah sengaja untuk menambah
perbendaharaan kata-katanya, mengejar dan menyusun struktur kalimat,
peribahasa, kesusastraan, dan keterampilan mengarang. Berkat diperolehnya
perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan diri dengan kelompok teman
sebayanya atau dengan lingkungan masyarakat sekitanya. Dalam proses belajar di
sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimaknai dengan memberikan tugas-tugas
kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik, maupun yang membutuhkan fikiran.
Emosi merupakan faktor dominan yang memengaruhi tingkah laku individu, dalam
hal ini termasuk pula perilaku belajar. Disamping pemberian materi agama kepada
anak, guru juga harus membiasakan latihan keagamaan yang menyangkut ibadah dan
akhlak. Perkembangan motorik sangat berpengaruh terhadap proses
belajar-mengajar. Perkembangan fisik yang normal adalah salah satu faktor
penentu kelancaranproses belajar, baik dalam bidang pengetahuan, maupun
keterampilan. Pada masa usia dasar, kematangan perkembangan motorik ini pada
umumnya telah dicapai, oleh karena itu mereka sudah siap menerima pelajaran
keterampilan. Untuk memfasilitasi perkembangan motorik atau keterampilan ini,
maka sekolah perlu menyiapkan guru khusus di bidang keterampilan.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar