Minggu, 19 Mei 2013



BAB I
 PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah

Dalam konteks pendidikan ,anak usia MI perlu mendapatkan perhatian khusus karena merupakan peletak pendidikan dasar yang akan memberikan bekal kepada anak pada jenjang pendidikan selanjutnya agar mampu mencapai tujuan pendidikan.
Pada hakikatnya tujuan pendidikan sendiri itu adalah menolong anak mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman,bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Seorang guru dan orang tua pun harus memahami tingkat perkembangan anak terlebih dahulu agar seorang guru dan orang tua mampu membuat rencana yang efektif dalam mengadakan perubahan dari anak itu sendiri.

B.     Rumusan masalah

a.       Bagaimana aspek perkembangan anak terhadap penyelenggaraan pendidikan di MI?
b.      Bagaimana perkembangan fisik motorik anak MI?
c.       Bagaimana perkembangan sosial anak MI?
d.      Bagaimana perkembangan kognitif anak MI?
e.       Bagaimana perkembangan emosi anak MI?
f.       Bagaimana perkembangan bahasa anak  MI?
g.      Bagaimana perkembangan moral anak MI?
h.      Bagaimana perkembangan agama anak MI?




C.    Tujuan penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana aspek perkembangan anak terhadap penyelenggaraan pendidikan di MI,perkembangan fisik dan motorik, perkembangan sosial, perkembangan kognitif, perkembangan emosi, perkembangan bahasa, perkembangan moral dan perkembangan agama pada anak.

D.    Metode pemecahan masalah

Metode yang kami gunakan dalam memecahkan masalah pada makalah ini yaitu dengan metode pustaka,yaitu kami mendapatkan informasi dengan mencari informasi melalui buku-buku sumber yang ada di perpustakaan dan kami juga menggunakan internet.













BAB  II
PEMBAHASAN
A.    IMPLIKASI ASPEK PERKEMBANGAN ANAK TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI SD/MI
Perkembangan fisik dan perseptual pada anak akan terus berkembang sampai usia remaja. Keduanya merupakan aspek saling saling terjalin dan seling mempengaruhi. Para pendidik juga harus seimbang dalam memberikan perhatian terhadap perkembangan fisik maupun persptual anak didiknya. Perhatian ini diperlukan untuk perkembangan aktivitas pengajaran dan aktivitas secara keseluruhan. Sehingga kedua faktor tersebut berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaran, pendidikan olahraga dan pemeliharaan kesehatan juga nutrisi anak.
·         Implikasi bagi Penyelenggara Pembelajaran
Anak usia SD sudah dapat mengontrol berbagai aktifitas mereka, dari segi fisik dan peseptual. Fisik mereka masih dalam perkembangan, untuk itu perlunya peninggkatan keterampilan fisik dan pemenuhan kebutuhan akan gerak mereka. Begitu pula masih berkembangnya aspek perseptul mereka dengan dirangsang dan difungsikan secara optimal melalu interaksi dengan lingkungan. Sehingga perlu adanya perhatian oleh seorang pendidik untuk lebih memberikan kesempatan atau kebebasan bagi anak melakukan aktivitas fisik dan perseptualnya. Para pendidik membutuhkan cara pengajaran yang lebih terbuka, lansung memberikan kesempatan anak berperan mengoptimalkan perkembangan fisik dan perceptual mereka. Dengan cara ini anak dapat lebih bersemangat dan timbul rasa senang dalam menjalani aktivitas pembelajaran. Sehingga berdampak positif juga bagi perkembangan mereka. Cara pembelajaran yang diharapakan dengan : program pengajaran yang fleksibel dan tidak kaku serta membedakan perbedaan individu, tidak monoton dan verbalistik yang di beri banyak variasi ( terdapat eksperimen, praktek, observasi,dll ), dan menggunakan berbagai media sehingga anak dapat berperan aktif secara mental dan perseptualnya. Di harapkan dengan cara ini anak dapat lebih berkembang, aktif dan membantu timbulnya suasana yang menyenangkan selama proses belajar. Karena anak lebih butuh banyak aktivitas yang membantu perkembangan mereka.

·         Implikasi bagi Penyelenggara Pendidikan Olahraga
Penyelenggaraan pendidikan olahraga juga sangat membantu perkembangan fisik dan perseptual anak. Pendidikan olahraga di sekolah dasar perlu adanya pemilihan jenis-jenis olahraga yang tepat bagi mereka sesuai dengan tahap perkembangannya. Anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar akan lebih senang beraktifitas dengan gerakan olahraga yang masih sederhana. Hal ini disebabkan anak tersebut gerakannya masih kaku dan perlu pengalaman yang lebih banyak. Pendidikan olahraga di sekolah dasar harus di olah dengan system permainan otot dan motorik mereka, karena anak masih senang dengan aktivitan permainan.
·         Implikasi bagi Pemelihara Kesehatan dan Nutrisi Anak
Pemeliharaan kesehatan dan nutrisi anak juga merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan atau perkembangan anak. Jika kesehatan dan nutrisi anak tidak diperhatikan akan mengakibatkan kematian. Terutama di negara berkambang taraf kesehatan dan nutrisi masih di bawah negara yang maju.
Sehingga juga ada penerapan di sekolah dasar untuk memelihara kesehatan mereka dengan membuang sampah, makan makanan yang bersih, memakai pakaian yang bersih, dan selalu menjaga lingkungan sekitar selalu dalam keadaan bersih. Tetapi tidak dipungkiri juga seorang pendidik harus memberi contoh pada anak didiknya untuk memelihara kesehatan lingkungan sekitar. Kadang – kadang anak kecil masih sangat polos dan perbuatan gurunya selalu diperhatikan bahkan ditiru. Bagaimana anak didik akan melakukan jika pendidiknya belum memberi contoh.
Makanan yang mengandung nutrisi juga harus diperhatikan agar anak tetap sehat dan berbadan gemuk. Karena anak yang kurang nutrisi juga akan berdampak pada perkembangan fisik dan perseptualnya. Perlunya pengarahan dari guru untuk mengajak anak didik makan makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna yaitu yang mengandung karbohidrat ( nasi, roti, ubi), mineral ( sayur mayor ), protein ( lauk pauk), vitamin ( buah-buahan) dan susu. Sehingga perlu adanya keseimbangan dari guru, staf, lingkungan, dan orang tua untuk membantu memelihara kesehatan dan nutrisi anak agar tetap terjaga.

A.    PERKEMBANGAN FISIK MOTORIK
 Perkembangan Fisik Monotorik
Seiring dengan pertumbuhan fisik yang beranjak matang,maka perkembangan monotorik anak,perkembangan anak usia dasar ditandai dengan gerak atau aktifitas motorik yang lincah oleh karena itu usia ini merupakan massa yang ideal untuk belajat keterampilan yang berkaitan dengan motorik baik halus maupun kasar.
Contoh  perkembangan motorik anak
Motorik  Halus
Motorik Kasar
1.             Menggambar
1.             Bela diri
2.             menulis
2.             berenang

Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu factor penentu kelancaran proses belajar baik dalam bidang pengetahuan maupun ktrampilan,oleh karena itu perkembangan motorik sangat enunjang keberhasilan peserta didik. Upaya-upaya sekolah untuk memfasilitasi perkembangan motorik secara fungsional tersebut diantaranya sebagai tersebut:
1.    Sekolah merancang pelajaran krampilan yang ber,manfaat bagi perkembangan atau kehidupan anak
2.    Sekolah memberikan pelajaran senam atau olah raga kepada sisiwa.
3.    Sekolah perlu merekrut guru-guru yang memiliki keahlian dalam bidang-bidang tersebut.
4.    Sekolah menyediakan sarana untuk kelangsungan pelajaran tersebut.

                                                                                       


C. PERKEMBANGAN SOSIAL
Pengertian Hubungan Sosial
Hubungan sosial diartikan sebagai cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya. Hubungan sosial ini menyangkut juga penyesuaian diri terhadap lingkungan, seperti makan dan minum sendiri, berpakaian sendiri, menaati peraturan, membangun komitmen bersama dalam kelompok atau organisasinya, dan sejenisnya.
Pengaruh Hubungan Sosial Terhadap Tingkah Laku
Hubungan sosial individu dimulai sejak individu berada di lingkungan rumah bersama keluarganya.
·       Pengalaman hubungan sosial yang amat mendalam adalah melalui sentuhan ibu kepada bayinya.
·       Pada bulan kedua, bayi mulai mengenal wajah orang di sekitarnya dan mulai bisa tersenyum sebagai suatu cara menyatakan perasaan senangnya.
·       Sekitar bulan keenam, bayi mulai mengenal orang-orang di sekitarnya dan membedakan dengan orang-orang yang asing baginya.
·       Setelah berumur tujuh bulan, bayi mulai aktif mengadakan kontak dengan orang lain, yaitu dengan menunjukkan kemampuan sederhana, misalnya mengangkat tangannya untuk minta digendong atau menangis minta perhatian.
·       Pada akhir tahun pertama, kontak antara orang tua dan bayi sudah cukup jauh sehingga sudah dapat diajak bermain.
·       Pada masa prasekolah, kira-kira umur 18 bulan, keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan semakin besar sehingga tidak jarang menimbulkan masalah yang berkaitan dengan kedisiplinan.
·       Jean Piaget mengatakan bahwa permulaan kerjasama dan konformisme (penyesuaian) sosial semakin bertambah pada saat anak mencapai usia 7 sampai 10 tahun dan mencapai puncak kurva pada saat anak berada di antara umur 9 sampai 15 tahun.
·       Konformisme semakin bertambah dengan bertambahnya usia karena pada masa remaja sudah semakin berkembang keinginan mencari dan menemukan jati dirinya sehingga konformisme semakin berbenturan dengan upaya mencapai kemandiriran.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hubungan Sosial
Pengaruh lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat terhadap perkembangan sosial:
a.      Lingkungan Keluarga
Ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya yaitu, kebutuhan akan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri. Dengan kata lain, yang sangat dibutuhkan oleh remaja dalam perkembangan sosialnya adalah iklim keluarga yang kondusif yang mengandung 3 unsur, yaitu:
·      Karakteristik khas internal keluarga yang berbeda dari keluarga lainnya
·      Karakteristik khas itu dapat mempengaruhi perilaku individu dalam keluarga itu (termasuk remajanya).
·      Unsur kepemimpinan dan keteladanan kepala keluarga, sikap, dan harapan individu dalam keluarga tersebut.

b.      Lingkungan Sekolah
Kehadiran di sekolah merupakan perluasan lingkungan sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus merupakan faktor lingkungan baru yang sangat menantang atau bahkan mencemaskan dirinya.Ada4 tahap proses penyesuaian diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun hubungan sosialnya, yaitu:
  • Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak orang lain.
  • Anak dididik untuk menaati peraturan-peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.
  • Anak dituntut untuk lebih dewasa di dalam melakukan interaksi sosial berdasar asas saling memberi dan menerima.
  • Anak dituntut untuk memahami orang lain.
c.       Lingkungan Masyarakat
Sebagaimana dalam lingkungan keluarga dan sekolah, maka iklim kehidupan dalam masyarakat yang kondusif juga sangat diharapkan kemunculannya bagi perkembangan hubungan sosial remaja. Toenggoel P. Siagian menegaskan bahwa, “Masa remaja adalah masa untuk menentukan identitas dan menentukan arah, tetapi masa yang sulit ini menjadi bertambah sulit oleh adanya kontradiksi dalam masyarakat. Justru dalam periode remaja diperlukan norma dan pegangan yang jelas dan sederhana.”
Dengan demikian, iklim kehidupan masyarakat memberikan urutan penting bagi variasi perkembangan hubungan sosial remaja.
d.      Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Sosial
Perbedaan lingkungan dapat menimbulkan perbedaan sikap sosial pada individu. Secara psikologis, sikap ini dapat dipelajari dengan tiga cara, yaitu:
·            Meniru orang yang lebih berprestasi dalam bidang tertentu
·            Mengombinasikan pengalaman
·            Pengalaman khusus dengan emosional yang mendalam.





D.    PERKEMBANGAN KOGNITIF
          Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir. Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang/anak itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
PRINSIP DASAR TEORI PIAGET
Jean Piaget (seorang psikolog Swiss yang  hidup tahun 1896-1980) dikenal dengan teori perkembangan intelektual yang menyeluruh, yang mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi dan psikologis. Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh : manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin, manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian dan kendaraan untuk transportasi.
Teori perkembangan kognitif Piaget didasarkan atas prinsip proses adaptasi atau penyesuaian diri yang terjadi dalam interaksi antara organisme (makhluk hidup) dengan lingkungannya. Dalam proses adaptasi ini akan terjadi dua proses:
a.    Asimilasi merupakan suatu proses menerima berbagai stimulus atau rangsangan yang sampai pada dirinya sendiri untuk kemudian diolah dan disesuaikan dengan kondisi dirinya. Misalnya ketika seorang siswa menerima pelajaran dari guru tentang sopan santun, maka siswa akan mengolah dan menyesuaikannya dengan pelajaran tentang sopan santun yang pernah diterima dari orang tuanya. Dengan demikian pemahaman sopan santun dari guru akan disesuaikan dengan pengetahuan yang telah diperoleh dari orang tuanya. Hasil selanjutnya adalah merupakan keterpaduan antara pelajaran sopan santun dari orang tua dan dari guru.
b.    Akomodasi merupakan suatu proses menerima rangsangan yang datang dari lingkungan untuk kemudian disimpan dalam kesadarannya. Misalnya seorang siswa meniru pola – pola perilaku dari cerita – cerita film yang berasal dari negeri Barat. Dalam pross akomodasi sebaiknya terjadi proses seleksi terlebih dahulu sebelum menerima dan menyimpan suatu rangsangan dari lingkungan.
                                        
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

TAHAP – TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF
Menurut Piaget, pada garis besarnya perkembangan kognitif berlangsung melalui empat tahapan:
a.    Tahap Sensorimotor (sejak lahir sampai usia 2 tahun)
b.    Dalam tahap ini, pola kognitif anak masih bersifat biologis yang berpusat pada fungsi– fungsi alat indera dan gerak yang kemudian secar bertahap berkembang menjadi kemampuan berinteraksi dengan lingkungan secara lebih tepat.
c.    Tahap Pra-operasional, dibagi menjadi:
d.   Tahapan prakonseptual  atau simbolik, usia 2-4 tahun.
e.    Tahapan intuitif atau perceptual , usia 4-7 tahun.
Dalam tahapa ini pola berpikir anak sudah mulai berkembang kepada pola – pola berpikir tertentu. Anak sudah mampu membuat logikanya sendiri meskipun masih bersifat primitif dan kurang rasional. Anak sudah mampu membuat suatu kesimpulan denan logikanya sendiri. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda – beda.
c.    Tahap operasional konkret ( usia 7-12 tahun)
Pada masa ini anak telah mampu menggunakan pola berpikir opeasional secara konkret dalam arti masih memerlukan dukungan objek – objek konkrit. Pada masa ini anak telah memahami konsep yang berhubungan dengan ukuran kuantitas seperti panjang, lebar, luas, volume, berat, dan sebagainya.
d.      Tahap operasional formal (usia 12 tahun sampai remaja)
Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, anak dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

E.     PERKEMBANGAN EMOSI
Menurut Papalia, Olds & Feldman (2007) masa kanak-kanak tengah dimulai dari usia 6-11 tahun sedangkan menurut Gottman & DeClaire (1997) masa kanak-kanak tengah dimulai dari usia 8-12 tahun. Selama periode masa kanak-kanak tengah (Usia SD) anak-anak mulai berhubungan dengan suatu kelompok sosial yang lebih luas dan memahami pengaruh sosial. Pada saat bersamaan, anak-anak mulai tumbuh secara kognitif dan mampu mengenali emosi mereka sendiri (Gottman & DeClaire, 1997
Anak-anak pada masa kanak-kanak tengah sudah dapat memahami disposisi psikososial yang berarti bahwa anak sudah mampu menjelaskan emosinya dengan menghubungkannya pada internal states dan bukan pada physical events. Mereka sudah memahami variasi-variasi emosi yang ada (Strayer dalam Berk, 1996).
Emotional self-regulation berkembang pesat pada masa kanak-kanak tengah seiring dengan berkembangnya berbagai cara yang digunakan oleh anak untuk mengatasi situasi-situasi yang memunculkan perasaan emosional. Anak-anak pada masa kanak-kanak tengah tidak hanya mampu memahami dan merespon perasaan mereka sendiri tetapi mereka juga sudah mampu memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Kemampuan untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain (perspective taking) sudah berkembang pada masa kanak-kanak tengah. (Berk, 1996).
Menurut Papalia, dkk (2007) pada usia 8-10 tahun, anak sudah mampu mengintegrasikan rangkaian emosi positif dan negatif. Anak dapat memahami bahwa dirinya memiliki dua perasaan yang saling bertolak belakang pada saat yang bersamaan. Pada usia 11 tahun, anak sudah mampu mendeskripsikan perasaan yang dirasakannya (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Menurut Gottman & DeClaire (1997) orang tua memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak dengan memberikan emotion coaching sejak dini. Emotion coaching sebaiknya diberikan pada masa kanak-kanak awal yaitu antara usia empat sampai tujuh tahun sebab pada masa ini anak mulai membentuk hubungan sosial dengan teman sebayanya dan anak dapat mengembangkan ketrampilan mengatur emosinya ketika berinteraksi dengan teman sebayanya (Gottman & DeClaire, 1997). Hal ini sesuai dengan penelitian Gottman & DeClaire (1997) yang menunjukkan bahwa anak yang berhasil mengendalikan emosinya ketika berhubungan dengan kelompok sosialnya pada masa kanak-kanak tengah yaitu antara usia delapan sampai dua belas tahun adalah anak yang telah belajar mengendalikan emosinya pada masa kanak-kanak awal melalui emotion coaching

F.     PERKEMBANGAN BAHASA
anak sekolah dasar dalam berbahasa terus berkembang, dari mulai satu kalimat, dan seterusnya. Untuk itu perlu kita telusuri apa saja perkembangan bahasa yang dialami oleh perserta didik. Tentunya bagi sorang guru itu perlu mengetahui bagaimana perkembangan bahasa perserta didiknya. Perkembangan bahasa pada usia sekolah yaitu antara lain,
penggunaan bahasa pada anak, aspek pada penggunaan bahasa adalah narasi dan percakapan. Umumnya pada usia ini, tugas komunikasi menjadi kompleks dan sulit , sehingga anak-anak usia ini mengalami kesulitan untuk memahami perasann orang lain, lalu anak usia 5-6 tahun cenderung kurang mampu mengkomunikasikan informasi dari anak yang lebih tua, jadi informasi yang abstrak belum mampu dikomuikasikan pada anak-anak.
Lalu meningkatnya jumlah pembendaharaan dan spesifikasi definisi. Yaitu dalam masa pertumbuhan pemahaman kata dan hubungannya berlangsung terus menerus, sehingga mereka dapat memperkaya perbendaharaan katanya lebih banyak melalui bacaan-bacaan yang sifatnya konstekstual, peningkatan tersebut mungkin setelah kelas empat SD. Namun walaupun terjadi peningkatan perbendaharaan kata tidak selalu anak dapat memahami makna suatu kata atau kalimat. Karena, dapat terjadi bila anak tidak menguasai perbendaharaan dari semua kata di dalam kalimat, tapi anak itu dapat memahami makna kata atau kalimat secara tepat. Sebaliknya, anak yang menguasai arti dari seluruh kata dalam suatu kalimat tertentu tidak dapat memahami makna kata atau suatu kalimat. Untuk itu dalam memaknai suatu kata ataupun kalimat diperlukan lebih banyak kemampuan menjustifikasi suatu kata atau kalimat daripada sekedar mengetahui arti kata.
Selanjutnya, pengembangan sintaksis yang ada dan pemerolehan bentuk-bentuk baru secara simultan. Yaitu anak yang terus menerus mengembangkan kalimat dengan mengelobarasikan kata benda dan kata kerja. Penyatuan dan pemahaman fungsi terus berkembang. Struktur tambahan mencakup bentuk kalimat pasif. Dalam perkembangan morpologi pada anak kelas awal SD dapat ditandai dengan penggunaan kata imbuhan awalan, dan paling sulit yang hadapi anak yaitu menenai penggunaan sisipan.
Perkembangan membaca dan menulis, perlu diketahui bahwa faktor yang berpengaruh pada pembaca yang baik yaitu kesediaan orang tua untuk menyediakan serta menciptakan lingkungan kondusif di rumah bagi perkembangan kemampuan membaca melalui penyediaan bacaan. Membaca bersama-sama merupakan aktivitas yang bernilai sosial tinggi yang melibatkan secara aktif orang tua dan anak. Ada tumpang tindih antara menbaca dan menulis, umumnya, penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Sebaliknya, proses menulis berkaitan dengan kegiatan menggambar yang menunjukkan simbolis, sehingga anak yang kemampuan melukisnya bagus maka menulisnya juga bagus.
Menciptakan perkembangan bahasa yang optimal di KBM SD,Untuk menuntun anak dalam mengenai perkembangan bahasa itu sangat penting. Karena dapat membantu anak berkomunikasi dengan baik dan ank tersebut tentunya akan mengerti tentang pemahaman-pemahaman tertentu. Untuk itu perlu sekolah terutama di setiap kelas suatu pembelaajaran yang efektif sehingga perkembangan bahasanya bisa berjalan secara optimal.
Pembelajaran yang optimal maka sangat perlu bahasa yang komunikatif yang memungkinkan semua pihak yang terlibat dalam interaksi belajar mengajar dapat berperan secara aktif dan produktif. Bahasa itu merupakan alat komunikasi dalam pergaulan social sehingga dengan komunikasi bisa menghasilkan pembelajaran efektif untuk mendapat pendidikan yang optimal. apabila guru dan siswa saling komunikasi dengan baik dan anak mengerti apa yang dikatakan oleh seorang guru, tentunya dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal. untuk itu, diharapkan seorang guru agar menggunakan bahasa anak di dalam kelas daripada bahasa orang dewasa.
Dari terjalinnya suatu komunikatif antara seorang guru dan peserta didik, tentunya pemberian lingkungan kondusif bagi perkembangan bahasa itu sangat penting. Dengan adanya lingkungan kondusif yang tercipta sesuai dengan kebutuhan anak untuk perkembangan bahasa pada saatnya, akan berdampak sangat positif terhadap perkembangan bahasa anak, tidak hanya sebagai pengguna bahasa yang pasif, tapi juga menjadi pengguna bahasa yang aktif. Untuk menciptakan suatu lingkungan kondusif dikelas yaitu pengaturan tata letak meja kursi dan lainnya, dan juga suara seorang guru agar tidak begitu lirih di dalam kelas, sehingga seorang guru harus mengatur suaranya agar dapat didengar siswa semuanya.
G. PERKEMBANGAN MORAL
Pertama sekali anak belajar mengikuti aturan-aturan yang ada tanpa tahu alasan mengapa harus mengikuti aturan-aturan tersebut. Dalam mempelajari moral, ada 4 elemen penting, yaitu peran hukum, tata krama dan aturan; peran kata hati; peran rasa bersalah dan malu; serta peran interaksi sosial. Keempat elemen ini penting dalam perkembangan moral seorang anak. Perkembangan moral tidak bisa dilepaskan dari lingkungan. Ketika kecil lingkungan keluargalah yang berperan, namun begitu memasuki usia sekolah konsep moral mulai berkembang, anak mengikuti aturan-aturan yang ada disertai adanya alasan-alasan tertentu. Misalnya, agar disenangi teman sebaya atau orang disekelilingnya anak mengikuti aturan-aturan yang diharapkan lingkungannya.
Dalam perkembangan moral, disiplin mempunyai peran penting. Melalui disiplin anak belajar berperilaku sesuai dengan kelompok sosialnya. anak pun belajar perilaku yang dapat diterima dan tidak diterima dalam masyarakat. Dalam menanamkan disiplin, hukuman dan penghargaan mempunyai andil. Hukuman akan diberikan jika terjadi pelanggaran disiplin, anak pun belajar memahami mengapa perilakunya salah dan anak tidak akan mengulangi perilaku tersebut. Demikian pula dengan penghargaan. Adanya penghargaan, anak akan belajar mengulangi perilaku yang diterima di lingkungannya. Pemberian hukuman dan penghargaan, atau penanaman disiplin haruslah secara konsisten.
Pengenalan perilaku baik dan buruk tidak terlepas dari bagaimana mengenalkan agama sejak dini. Melalui contoh sehari-hari anak belajar konsep Tuhan, surga, neraka, setan ataupun malaikat.
H. PERKEMBANGAN AGAMA
Pada masa ini kesadaran beragama anak ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Sikap keagamaan anak masih bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengertian.
2.    Panangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman kepada indikator-indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
3.    Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
Dalam mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan penyayangnya, bukan menonjolkan sifat-sifat Tuhan yanng menghukum, mengazab, atau memberikan siksaan dengan neraka.
Sampai kira-kira berusia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis, sehingga kesadaran beragamanya hanyaa merupakan hasil sosialisasi orang-orang di sekitanya. Oleh karena itu, pengamalan ibadahnya masih bersifat peniruan, belum dilandasi kesadarannya. Pada usia 10 tahun ke atas, semakin bertambah kesadarannya akan fungsi agama baginya, yaitu sebagai penggerak moral dan sosial. Dia mulai mengerti bahwa agama bukan kepercayaan pribadi atau keluarga, melainkan kepercayaan masyarakat luas. Berdasarkan ini , maka shalat berjama’ah atau shalat Idul Fitri/Adha dan ibadah sosial lainnya sangat menarik baginya. Periode sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama yang paling mendasar. Kualitas keagamaan anak di usia dewasa sangat dipengaruhi pula oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya waktu kecil. Maka dari itu, pendidikan agama pada usia SD/MI sangatlah penting dan layak menjadi perhatian yang lebih oleh semua pihak.
Menurut Zakiah Darajat mengemukakan bahwa pendidikan agama di sekolah dasar merupakan dasar bagi pembinaan sikap positif terhadap agama dan pembentukan kepribadian dan akhlak anak. Apabila berhasil, maka pengembangan sikap keagamaan pada masa remaja akan mudah, karena anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.


BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Kemampuan intelektual pada masa  ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada siswa sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan seperti membaca, menulis, dan berhitung. Pembelajaran bahasa disekolah sengaja untuk menambah perbendaharaan kata-katanya, mengejar dan menyusun struktur kalimat, peribahasa, kesusastraan, dan keterampilan mengarang. Berkat diperolehnya perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan diri dengan kelompok teman sebayanya atau dengan lingkungan masyarakat sekitanya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik, maupun yang membutuhkan fikiran. Emosi merupakan faktor dominan yang memengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Disamping pemberian materi agama kepada anak, guru juga harus membiasakan latihan keagamaan yang menyangkut ibadah dan akhlak. Perkembangan motorik sangat berpengaruh terhadap proses belajar-mengajar. Perkembangan fisik yang normal adalah salah satu faktor penentu kelancaranproses belajar, baik dalam bidang pengetahuan, maupun keterampilan. Pada masa usia dasar, kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya telah dicapai, oleh karena itu mereka sudah siap menerima pelajaran keterampilan. Untuk memfasilitasi perkembangan motorik atau keterampilan ini, maka sekolah perlu menyiapkan guru khusus di bidang keterampilan.



DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar